02
October
2012

Sebuah Mutiara Makna dalam Upacara Hari Kesaktian Pancasila

Pada hari Senin, 1 Oktober 2012 Sekolah Indonesia Singapura mengadakan upacara untuk memperingati hari Kesaktian Pancasila. Upacara ini di hadiri oleh staff KBRI Singapura, siswa siswi serta guru – guru SIS. Berjalan dengan lancar dan penuh hikmat, upacara ini berlangsung di lapangan rumput yang terletak di samping kanan sekolah.
Petugas upacara yang bertugas pada upacara ini adalah beberapa anggota dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka KBRI Singapura 2012. Sumantha (XII IPS) sebagai pemimpin upacara, Siti Nafisah Sulaiman (VIII SMP) sebagai protokol, Diah Novitasari sebagai pembaca Pembukaan UUD 1945, dan Andhika Hikmareta.

Dalam kesempatan kali ini, siswa-siswi Sekolah Indonesia Singapura menyanyikan Hymne SIS untuk pertama kalinya dalam upacara resmi. Sebelum upacara dibubarkan, ada sebuah kejutan dari siswa-siswi kelas 5 SD. Mereka mempersembahkan sebuah drama sederhana arahan Bapak Arief Rahman, selaku pembina dan pengajar Bahasa Indonesia Sekolah Indonesia Singapura.

Drama dengan kesan santai dan penuh humor yang ditampilkan oleh siswa-siswi kelas 5 SD itu mengisahkan tentang rombongan siswa yang sedang berkunjung ke sebuah monumen bersejarah. Dipandu oleh seorang guru, mereka tidak tahu siapa sebenarnya nama pahlawan-pahlawan di monument tersebut. Drama yang mengundang tawa itu diakhiri oleh penjelasan lebih lanjut, yaitu Monumen Lubang Buaya. Dan ketujuh pahlawan tersebut adalah Pahlawan Revolusi.

Dari drama yang ditampilkan oleh siswa-siswi kelas 5 SD tadi kita bisa menyadari bahwa terkadang kita sebagai generasi penerus bangsa cenderung lebih mengenal artis – artis dibandingkan pahlawan-pahlawan pembangun bangsa. Dan terkadang kita sudah jarang mengenang jasa – jasa pahlawan. Jadi, kita sebagai generasi penerus bangsa harus menghormati dan mengenang jasa – jasa pahlawan yang sudah memperjuangkan bangsa Indonesia. Tak hanya dalam pengertian sempit, salah satu pesan singkat dari drama ini mengajarkan kita juga tentang bagaimana kita harus bersikap menghadapi dunia persaingan global tanpa harus melupakan nilai-nilai budaya yang kita miliki, sebagai bentuk menghargai jasa-jasa pahlawan. Karena negara terbentuk berkat jasa-jasa mereka. Dan mereka memperjuangkan NKRI atas dasar kesamaan budaya.

Acara ini diakhiri dengan sesi foto bersama dengan keluarga besar SIS dan staff KBRI Singapura. Sebagaimana kata pepatah, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. [Deirdre]

Author; Tim Pers Mutiara Bangsa Categories: News SIS

About the Author

  • indonesian cultural centre
  • elearning center
  • virtual class
  • sistography
  • elibrary
  • Swara Mutiara Bangsa
  • Pramuka GUDEP 01 02 KBRI Singapura